SPIRIT

A heartbreak is a blessing from God. It’s just his way of letting you realize he saved you from the wrong one. Patah hati adalah berkah Tuhan. Itu adalah cara Tuhan menyelamatkanmu dari orang yang salah

Selasa, 13 Oktober 2015

PELAJARAN DAN AMALAN DI BULAN MUHARRAM

Oleh: Ust. Badruz Zaman 

Bulan Muharram termasuk salah satu bulan yang istimewa di kalangan kaum muslimin, karena pada bulan ini banyak kejadian-kejadian berharga yang tak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan agama Islam, dan pada bulan ini pula banyak kejadian-kejadian yang dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berakal.

Selain itu, bulan ini juga merupakan salah satu bulan dari empat bulan haram, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” (Qs. At-Taubah [9]: 36) Oleh karena itu, dalam bulan Muharram ini banyak amalan-amalan yang disunahkan sebagai bentuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah s.w.t. dan ungkapan syukur kepada-Nya.

a.    Pelajaran di Bulan Muharram
Pada bulan Muharram ini banyak kejadian-kejadian yang mengagumkan, dan layak kita ceritakan masa demi masa kepada anak cucu dan keturunan kita, agar mereka mengetahuinya dan dapat mengambil hikmahnya, sehingga ia bisa menjadi pelajaran bagi mereka. “Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka?” (Qs. Ar-Ruum [30]: 9).

Di antara kejadian-kejadian pada bulan Muharram adalah:

·      Allah Menyelamatkan Musa dari Kejaran Fir’aun

Nabi Musa a.s. diutus kepada dua golongan manusia, yaitu Bani Israil dan Fir’aun. Kalangan Bani Israil banyak yang menerima dakwah nabi Musa, sedangkan Fir’aun sedikit pun tak mau menerima dakwahnya. Bahkan dialah orang yang tidak menginginkan kelahiran nabi Musa, karena dia menganggap bahwa kelahiran Musa adalah petaka bagi kekuasaannya, sehingga dia memerintahkan para tentaranya untuk membunuh setiap anak laki-laki yang lahir di tengah-tengah Bani Israil.

Dengan sombongnya, Fir’aun berkata kepada para pengikutnya, “Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku, maka apakah kamu tidak melihat(nya)? Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?” (Qs. Az-Zukhruf [43]: 51-52) Setelah Musa memulai dakwahnya dan Bani Israil banyak yang menjadi pengikutnya, Allah s.w.t. mengirimkan wahyu kepadanya, agar dia membawa pergi kaumnya di malam hari untuk menghindari serangan Fir’aun beserta para tentaranya. Allah s.w.t. berfirman, “Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari.” (Qs. Thaahaa [20]: 77).

Musa pun membawa kaumnya di malam hari, dia keluar dari Mesir menuju ke arah barat, yaitu arah laut merah. Katika Fir’aun mengetahui hal itu, dia pun memanggil semua tentara dan para pengikutnya untuk mengejar Musa dan kaumnya.  Setelah Musa dan kaumnya sampai di laut merah, kaumnya berkata kepada Musa, “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.” (Asy-Syu’araa` [26]: 61) Namun Musa menjawab dengan penuh keyakinan, “Sekali-kali tidak akan tersusul; Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (Asy-Syu’araa` [26]: 62).

Lantas Allah s.w.t. memerintahkan Musa untuk memukulkan tongkatnya pada lautan itu. Allah s.w.t. berfirman, “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.”   (Asy-Syu’araa` [26]: 63) Maka lautan itupun terbelah menjadi dua belas jalan sesuai dengan kelompok Bani Israil. Lautan itu tak sedikit pun membasahi rombongan Musa. Bahkan belahan air itu menggumpal seperti gunung-gunung yang berbaris di sepanjang jalan. Sehingga Musa dan para pengikutnya dapat melintasinya. Setelah mereka semua keluar darinya, Fir’aun dan para pengikutnya masuk ke dalam lautan untuk mengejar mereka, namun ketika mereka semua berada di dalamnya, Allah s.w.t. memerintahkan lautan itu untuk kembali seperti semula, sehingga Fir’aun dan para pengikutnya mati tenggelam.
      
Kejadian yang menakjubkan ini terjadi pada bulan Muharram sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a. dia berkata: Nabi s.a.w. tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura, maka beliau menanyakan hal itu kepada mereka, lalu mereka menjawab, “Sesungguhnya pada hari ini Allah memenangkan Musa dan bani Israil atas pengikut Fir’aun hingga kami berpuasa pada hari ini untuk menghormatinya.” Nabi s.a.w. bersabda, “Kami (kaum muslimin) lebih utama terhadap Musa daripada kalian.” Lantas beliau memerintahkan (para sahabat) untuk berpuasa pada hari itu. (Muttafaq alaih)

·      Awal Terbentuknya Kalender Islam

Pada masa Umar bin Khtahthab r.a. setelah penyebaran Islam semakin meluas di segala penjuru, mulai dari barat, timur, utara hingga selatan, serta setalah banyaknya surat yang datang kepadanya, sehingga dia tidak mengetahui, apakah surat yang satu datang sebelum surat yang lain, maka Umar berfikir bahwa dia harus membuat kalender. Diapun mengumpulkan para sahabat senior guna memusyawarahkan gagasannya itu, sebagaimana kebiasaan mereka bila ada suatu masalah atau kejadian, maka mereka akan menggelar musyawarah.

Agenda pertama dalam musyawarah itu adalah membahas darimanakah kalender itu akan dimulai, apakah dari tahun kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. atau dari tahun diutusnya beliau atau dari hijrahnya beliau? Setelah mereka sepakat bahwa kalender Islam itu dimulai dari tahun diutusnya Nabi Muhammad s.a.w. terjadi lagi perdebatan di antara mereka. Ada yang berpendapat bahwa kalender ini dimulai dari bulan Ramadhan, karena Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur`an.

Yang lain berpendapat bahwa kalender ini dimulai dari bulan Rabiul Awwal, karena Rabiul Awwal adalah bulan pertama kali Rasulullah s.a.w. menerima wahyu, dan pada bulan itu pula Rasulullah s.a.w. berhijrah. Para sahabat berkata, “Ini usulan yang bagus, namun pada bulan ini ada kejadian yang lain, yaitu bulan ini adalah bulan Rasulullah s.a.w. wafat.” Akhirnya mereka tidak menyetujuinya, karena mereka khawatir akan selalu mengingat wafatnya Rasulullah s.a.w.
               
Kemudian mereka memilih bulan Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender Islam, karena pada bulan ini kaum muslimin baru menyelesaikan rukun Islam yang kelima, yaitu haji. Sehingga seakan-akan bulan Dzulhijjah adalah bulan untuk menyempurnakan rukun Islam yang lima, kemudian pada bulan Muharram kaum muslimin memasuki tahun yang baru.
Selain dua kejadian di atas, banyak lagi kejadian-kejadian di bulan Muharram yang tidak mungkin dipaparkan dengan begitu rinci dalam tulisan ini. Seperti Allah s.w.t. menerimat tobatnya nabi Adam, mengeluarkan nabi Nuh dari perahu, dan menyelamatkan nabi Ibrahim dari kobaran api, serta kejadian-kejadian yang lainnya.    

b.   Amalan di Bulan Muharram

Amalan yang dianjurkan dalam bulan Muharram berdasarkan tuntunan syariat sebagai berikut: 

1.    Puasa pada bulan Muharram secara umum
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi s.a.w. bersabda:
أَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ الْمَكْتُوبَةِ الصَّلاَةُ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ وَأَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللهِ الْمُحَرَّمِ.
Shalat paling utama setelah shalat wajib adalah shalat tengah malam, dan puasa paling utama setelah bulan Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim).

Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa bulan Muharram secara umum, mulai dari tanggal satu, dua, tiga dan seterusnya, baik puasa ini dilakukan sebulan penuh atau sebagiannya saja berdasarkan keumuman hadits di atas. Keutamaan puasa pada bulan Muharram, karena keutamaan waktunya dan besarnya pahala puasa, sebab puasa adalah amalan yang paling utama disisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang puasa Muharram sebulan penuh, dia menjawab, “Sebagian ulama berpendapat, puasa bulan Muharram sebulan penuh disunnahkan, tetapi saya tidak pernah mengetahui bahwa Nabi s.a.w. berpuasa pada bulan Muharram sebulan penuh. Puasa yang paling banyak beliau lakukan selain bulan Ramadhan adalah puasa bulan Sya’ban, sebagaimana hadits shahih yang diriwayatkan dari Aisyah. Namun orang yang berpuasa pada bulan Muharram sebulan penuh tidak boleh dikatakan pelaku bid’ah, karena hadits tentang keutamaan puasa ini juga menyimpan makna puasa sebulan penuh, sebagaimana yang disampaikan oleh sebagian ulama.” (Masa`il Fiqhiah Ashriah Mutanawwi’ah fil Ibadat wal Mu’amalat, 1/5).
  
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas  Radhiyallahu Anhu,  dia berkata: Rasulullah  Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
مَنْ صَامَ يَوْمَ عَرَفَةَ كَانَ لَهُ كَفَّارَةَ سَنَتَيْنِ، وَمَنْ صَامَ يَوْمًا مِنَ الْمُحَرَّمِ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ ثَلَاثُونَ يَوْمًا.
 “Barangsiapa berpuasa pada hari Arafah (tanggal 10 bulan Dzulhijjah), maka ia sebagai kafarat (penghapus) bagi (dosa)nya selama dua tahun. Dan barangsiapa berpuasa satu hari dari bulan Muharram, maka dalam setiap harinya dia mendapatkan (pahala seperti pahala puasa) tiga puluh hari. (HR. Ath-Thabarani).

Selasa, 01 September 2015

RENOVASI SARANA FISIK HURIN ‘IN ; SEBUAH KEBUTUHAN MENDESAK

A.  PENDAHULUAN
         
Kesadaran membangun peradaban masyarakat (civic civilization) yang berbudaya merupakan tanggungjawab setiap komponen bangsa. Oleh karena itu segala upaya masyarakat yang mengarah kepada lahirnya gerakan yang turut membantu terciptanya suasana hidup yang dinamis, harmonis dan kreatif hendaknya mendapat dukungan bersama.

Di beberapa negara maju, terutama negara-negara Barat, kreatifitas masyarakat sangat dihargai. Mereka mempunyai asumsi bahwa memberikan ruang gerak bagi bersemainya semangat dinamis dan progresif adalah suasana yang dapat saling menunjang lahirnya produktifitas diantara mereka.

Namun sayang bahwa dunia Barat lebih mengedepankan gaya hidup kapitalis. Aktualisasi diri lebih banyak didasari oleh adanya pemikiran untuk menciptakan produktifitas yang sebanyak-banyaknya. Kerja sama diantara mereka lebih banyak dipengaruhi oleh adanya kesamaan kepentingan untuk menghasilkan produk bukan didasarkan pada nilai-nilai luhur kemanusiaan.

 Semangat hidup tidak lagi dilandasi oleh nilai-nilai humanistik tetapi nilai-nilai mekanik. Dari perilaku ini akhirnya muncul kelompok-kelompok elit secara ekonomis tetapi rapuh secara spirituil.  Dampak negatif dari persoalan di atas melahirkan komunitas yang acuh, tidak peduli terhadap sesama dan rentan terhadap tindak kejahatan. Kelas-kelas masyarakat susah untuk berkomunikasi, masing-masing bersikukuh pada gengsi kelompoknya masing-masing.


B. DASAR PEMIKIRAN

          Islam sebagai agama yang egaliter, mengajarkan sikap persaudaraan antar sesama, saling mengingatkan untuk berbuat kebaikan dan saling menganjurkan untuk bersabar. Makna dari anjuran ini adalah bagaimana antar sesama muslim senantiasa dapat berkomunikasi dengan baik dalam berbagai hal, sehingga cita-cita untuk mewujudkan komunitas yang shaleh dapat diaksentuasi dalam derap langkah kehidupan nyata.

Minggu, 19 Juli 2015

BELAJAR MEMBERI DI MALAM KEMENANGAN FITRI

Memberi merupakan perbuatan mulia yang diajarkan dalam semua agama-agama yang ada di dunia. Dengan memberi, seorang yang didera lapar mendapat kepastian makan, anak putus sekolah mendapat kepastian jaminan hak memeperoleh pendidikan, dan pesakitan mendapat kepastian layanan kesehatan. Menolak fakta ini berarti memihak pada kecongkakan intelektual dan kebutaan moral. 

Dalam Islam, setiap Muslim tidak cuma di dorong untuk memiliki sifat memberi, lebih dari itu menjadi manusia manfaat untuk sesama umat manusia tanpa melihat latar belakang suku, bangsa dan agama. Hal ini didasari pada sabda Rasulillah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah dia yang paling bermanfaat untuk sesama manusia.”

Moment malam takbiran, beberapa waktu yang lalu, bagi siswa-siswa Hurin ‘In tidak sekedar menyambut hari kemanangan semata, lebih dari itu menjadi sarana belajar yang menjadi bagian “mata pelajaran” dari “madrasah Ramadhan” dengan menyalurkan zakat fitrah yang di amanahkan oleh para muzakki kepada Hurin ‘In, untuk kemudian disampaikan kepada para mustahiq yang ada dilingkungan Hurin ‘In. Lebih dari empat ratus liter beras dan lebih dari dua juta rupiah, pada malam itu juga selesai disalurkan kepada para mustahiq.

Melalui penyaluran zakat fitrah, siswa-siwi Hurin ‘In pada malam hari kemenangan itu dilatih untuk memiliki perspektif baru dalam melihat berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat ditengah masa dimana kehidupan agama-agama secara formal tampak semarak, rumah-rumah ibadah ramai, dan bahasa-bahasa agama telah memenuhi judul-judul sinetron di televisi.

Dalam kesahajaan, setiap santri Hurin ‘In di latih untuk “menghadirkan” nelangsa orang lain dalam dirinya, karena memang setiap anak secara potensial dibekali kemampuan untuk itu. Semoga sesudah bulan Ramadhan berlalu semangat memberi tetap terawat, tumbuh dan berkembang.

Indah sekali Allah berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (البقرة (2): 261)

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah (2): 261).

Rasulullah bersabda:
“Seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (H.R. Bukhari).

Kamis, 25 Juni 2015

RAMADHAN KAMI BULAN BELAJAR TIADA HENTI

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (البقرة (۲): ۱٨٥)

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Q.S. Al-Baqarah (2): 185).

Bulan Ramadhan, yang kami rasakan tidak sekedar menahan makan dan minum di siang hari, atau tarawih dan tadarrus al-quran di malam hari. Sebab bagi kami yang sudah terbiasa hidup dalam keterbatasan, makan dan minum dalam takaran yang minimum sudah bagian keseharian kami. Begitu pula dengan salat dan baca al-quran dimalam hari, kedua ibadah mulia itu memang kegiatan rutin Hurin ‘In yang berlangsung sepanjang tahun baik ketika maupun diluar bulan Ramadhan.

Menyaksikan gemuruh orang menjalankan shalat tarawih atau mendengar lantunan orang membaca al-quran di malam-malam bulan Ramadhan membuat kami, siswa-siswi Hurin ‘In,  kembali belajar untuk bersyukur karena jauh sebelum datang bulan Ramadhan kami telah dikondisikan oleh Allah untuk terbiasa shalat malam dan membaca al-quran.  Wajar jika kemudian tarawih dan tadarus yang kami jalankan sepanjang bulan Ramadhan lebih banyak didorong oleh rasa syukur kami kepada Allah Rabbul ‘Izah.

Begitu pula dengan menahan makan dan minum disiang hari, jauh sebelum masuk bulan Ramadhan kami telah dipilih Allah untuk terbiasa “terbatas” dalam hal makan dan minum. Tak sekedar urusan pangan, semua hal yang menyangkut sandang dan papan pun kami telah terbiasa ada dalam keterbatasan. Sehingga menjadi hal yang niscaya, saat kami harus menahan makan dan minum disiang hari bulan Ramadhan, semua larangan-larangan itu kami jalani penuh dengan rasa syukur kepada Allah Rabbul ‘Izzah.

Rabu, 20 Mei 2015

NYANYIAN PILU SEORANG ANAK PSK

Ditengah remang aku menyendiri
Merasakan hangat ibuku di hati
Lilin berjatuhan angin kesepian
Merindukan nyala api kehidupan
Di atas mimpi hidup dan kasih sayang

Di dalam bayang ibuku menangis
Mengenang keringat dan tegar berjuang
Pohon-pohon tua
Hantu-hantu lucu
Berebut memanggil rindu diwajahmu

Ditengah hati kami yang sedang pilu
Adzan menawarkan keheningan
Di dasar batin anak yang rindu kasih sayang
Hiduplah terus wahai kecintaan
Menemani hari-harimu di pemakaman

Senin, 11 Mei 2015

MERIAHKAN GLOBAL ROAD SAFETY WEEK 2015

Minggu, 10 Mei 2015

JAKARTA (HURIN ‘IN)- Sekitar 25 siswa-siswi Hurin ‘In bergabung bersama ratusan siswa-siswi Sekolah Dasar se DKI Jakarta, pada Perayaan Global Road Safety Week 2015 yang diselenggarakan Yayasan Berani Bhakti Bangsa bersama Kepolisian Negara Republik Indonesia Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) di Silang Monas, Minggu (10/5).

Acara yang menggelar kampanye "Keselamatan Berlalu Lintas Di Jalan" ini terkait dengan laporan kecelakaan lalu lintas yang dirilis Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada Mei 2015. WHO mencatat ada sekitar 1,24 juta orang meninggal dunia setiap tahunnya akibat kecelakaan lalu lintas di jalan raya. Kasus tersebut sebagian besar terjadi di negara-negara berkembang dan menjadi penyebab kematian anak-anak dan remaja di bawah usia 18 tahun.

Hal ini yang mendorong Yayasan Berani Bhakti Bangsa, sebuah organisasi yang peduli akan kemajuan dan pendidikan anak Indonesia, bersama Polda Metro Jaya mengelar Global Road Safety Week 2015 sebagai langkah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya keselamatan berlalu lintas dijalan raya, sehingga mampu mengurangi angka kecelakaan dijalan raya.

“Dunia sedang memperingati hari ketertiban lalu lintas. Anak-anak Indoensia harus berani menunjukkan Indonesia juga bisa tertib dan berdisiplin di jalan raya, “ ujar H. Witdarmono direktur Yayasan Berani Bhakti Bangsa.

“Tema Keselamatan dan Tertib Lalu Lintas sengaja melibatkan siswa Sekolah Dasar (SD) agar sejak usia dini anak-anak Indonesia mengenal tertib di jalan dan tertib berlalu lintas,” tegas H. Witdarmono yang akrab di sapa Pak Wit.

Minggu, 03 Mei 2015

MARAWIS HURIN 'IN UNTUK PERUBAHAN

Tidak ada satu ahli, baik mereka berasal dari kalangan pendidikan, psychology, ekonom, kuliner, politik dan lain sebagainya yang menolak manfaat seni pada anak. Dengan seni seorang anak akan dapat mempelajari berbagai keterampilan sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya,  disamping imajinasinya akan mudah tumbuh dan berkembang melalui karya seni yang dihasilkannya.  

Dalam berkesenian, pikiran dan perasaan anak cenderung aktif hingga membuat seorang anak menjadi lebih mudah menerima masukan dan saran yang diberikan. Salah satu seni yang di ajarkan Hurin ‘In kepada siswa-siswi nya adalah Seni Marawis.

Kesenian marawis yang mengandung unsur budaya Timur Tengah dan Betawi ini sarat dengan berbagai lirik lagu pujian dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Dari sini diharapkan setiap santri Hurin ‘In mengenal Tuhan, Rasul dan diri sendiri.

Marawis memiliki tiga jenis pukulan atau nada, yaitu zapin, sarah dan zahefah. Pukulan zapin digunakan untuk mengiringi lagu-lagu gembira seperti lagu berbalas pantun atau lagu pujian (shalawat) kepada Nabi Muhammad S.A.W. Irama zapin yang lebih lambat dan tidak terlalu menghentak biasa dimainkan untuk mengiringi lagu-lagu Melayu.

Berbeda dengan zapin, pukulan sarah digunakan untuk mengarak pengantin sedang zahefah mengiringi lagu di majlis. Nada sarah dan zahefah lebih banyak digunakan untuk irama yang menghentak dan membangkitkan semangat.