SPIRIT

A heartbreak is a blessing from God. It’s just his way of letting you realize he saved you from the wrong one. Patah hati adalah berkah Tuhan. Itu adalah cara Tuhan menyelamatkanmu dari orang yang salah
Tampilkan postingan dengan label Belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Juli 2015

BELAJAR MEMBERI DI MALAM KEMENANGAN FITRI

Memberi merupakan perbuatan mulia yang diajarkan dalam semua agama-agama yang ada di dunia. Dengan memberi, seorang yang didera lapar mendapat kepastian makan, anak putus sekolah mendapat kepastian jaminan hak memperoleh pendidikan, dan pesakitan mendapat kepastian layanan kesehatan. Menolak fakta ini berarti memihak pada kecongkakan intelektual dan kebutaan moral. 

Dalam Islam, setiap Muslim tidak cuma didorong untuk memiliki sifat memberi, lebih dari itu menjadi manusia manfaat untuk sesama umat manusia tanpa melihat latar belakang suku, bangsa dan agama. Hal ini didasari pada sabda Rasulillah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam:



خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah dia yang paling bermanfaat untuk sesama manusia.” 

Moment malam takbiran, beberapa waktu yang lalu, bagi siswa-siswa Hurin‘in tidak sekedar menyambut hari kemenangan semata, lebih dari itu menjadi sarana belajar yang menjadi bagian “mata pelajaran” dari “madrasah Ramadhan” dengan menyalurkan zakat fitrah yang di amanahkan oleh para muzakki kepada Hurin’in, untuk kemudian disampaikan kepada para mustahiq yang ada dilingkungan Hurin’in. Lebih dari empat ratus liter beras dan lebih dari dua juta rupiah, pada malam itu juga selesai disalurkan kepada para mustahiq.

Melalui penyaluran zakat fitrah, santri Hurin’in pada malam hari kemenangan itu dilatih untuk memiliki perspektif baru dalam melihat berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat di tengah masa di mana kehidupan agama-agama secara formal tampak semarak, rumah-rumah ibadah ramai, dan bahasa-bahasa agama telah memenuhi judul-judul sinetron di televisi.

Dalam kesahajaan, setiap santri Hurin’in dilatih untuk “menghadirkan” nelangsa orang lain dalam dirinya, karena memang setiap anak secara potensial dibekali kemampuan untuk itu. Semoga sesudah bulan Ramadhan berlalu semangat memberi tetap terawat, tumbuh dan berkembang.

Kamis, 25 Juni 2015

RAMADHAN KAMI BULAN BELAJAR TIADA HENTI

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (البقرة (۲): ۱٨٥)

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Q.S. Al-Baqarah (2): 185).

Bulan Ramadhan, yang kami rasakan tidak sekedar menahan makan dan minum di siang hari, atau tarawih dan tadarrus al-quran di malam hari. Sebab bagi kami yang sudah terbiasa hidup dalam keterbatasan, makan dan minum dalam takaran yang minimum sudah bagian keseharian kami. Begitu pula dengan salat dan baca al-quran dimalam hari, kedua ibadah mulia itu memang kegiatan rutin Hurin ‘In yang berlangsung sepanjang tahun baik ketika maupun diluar bulan Ramadhan.

Menyaksikan gemuruh orang menjalankan shalat tarawih atau mendengar lantunan orang membaca al-quran di malam-malam bulan Ramadhan membuat kami, siswa-siswi Hurin ‘In,  kembali belajar untuk bersyukur karena jauh sebelum datang bulan Ramadhan kami telah dikondisikan oleh Allah untuk terbiasa shalat malam dan membaca al-quran.  Wajar jika kemudian tarawih dan tadarus yang kami jalankan sepanjang bulan Ramadhan lebih banyak didorong oleh rasa syukur kami kepada Allah Rabbul ‘Izah.

Begitu pula dengan menahan makan dan minum disiang hari, jauh sebelum masuk bulan Ramadhan kami telah dipilih Allah untuk terbiasa “terbatas” dalam hal makan dan minum. Tak sekedar urusan pangan, semua hal yang menyangkut sandang dan papan pun kami telah terbiasa ada dalam keterbatasan. Sehingga menjadi hal yang niscaya, saat kami harus menahan makan dan minum disiang hari bulan Ramadhan, semua larangan-larangan itu kami jalani penuh dengan rasa syukur kepada Allah Rabbul ‘Izzah.